Borneo, dan Pembakaran Hutan.

Sembilan tahun lalu, saya mengabadikan Borneo dan segala isinya, di blog ini. Ada tiga hari yang sampai hari ini masih menjadi salah satu core memory yang saya pelihara baik-baik. Jauh sebelum saya punya Mik, sudah bulat tekad saya untuk mendoakan agar anak saya kelak bisa merasakan magis yang pernah saya rasakan di sana. Ketika Mik lahir, hingga usianya kini menginjak lima tahun, saya sering bercerita tentang orangutan, Borneo, dan Tanjung Puting.

“Mik, ada tempat yang harus Mik kunjungi, setidaknya sekali seumur hidup kamu”, begitu selalu saya mengawali cerita ke Mik.

Saya ingin ia tau, dunia ini jauh lebih besar daripada apa yang bisa kita lihat dari jendela mobil, layar televisi, atau gedung-gedung tinggi di kota. Bahwa ada kehidupan yang berjalan dengan caranya sendiri. Ada hutan yang begitu kaya, sungai yang membentang, dan makhluk-makhluk yang hidup berdampingan tanpa perlu tahu apa-apa tentang manusia dan segala ambisinya.

Mendidih, sekarang melihat apa yang terjadi di sana. Karhutla. Pembakaran hutan. Melalap Kalimantan kita.

Sekali lagi, ini bukan kebakaran hutan. Ini pembakaran.

Setiap kali saya buka kanal berita, atau baca realtime unggahan Threads, rasanya burn-out terus dan hopeless karena ga bisa-apa-apa, selain marah.

Di Kalimantan Selatan, belasan bekantan ditemukan mati terbakar. Sebelas ekor, termasuk seekor anakan, ditemukan mati di Desa Balimau. Di Kalimantan Tengah, puluhan bangkai satwa liar ditemukan hangus. Ada ular, biawak, dan satwa lain yang bahkan tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Seekor burung hantu juga dilaporkan ditemukan mati di sekitar hutan yang terdampak kebakaran di Kalimantan Barat.

Mereka tidak punya pilihan untuk pindah rumah. Tidak punya siapa-siapa untuk mengadu ketika tempat mereka hidup berubah menjadi abu.

Lalu kita bicara tentang manusia.

Pada Oktober ini, seorang bayi di Samarinda meninggal setelah mengalami sesak napas berat di tengah kepungan asap karhutla. Keluarganya bercerita bahwa asap masuk sampai ke dalam rumah. Di Kayong Utara, seorang anak berusia enam tahun juga meninggal setelah mengalami gangguan pernapasan berat. Kematian mereka bukan sekadar angka di laporan kesehatan. Ada orang tua yang harus menguburkan anaknya, sementara udara di luar masih dipenuhi asap.

Di Sampit, dua orang meninggal dalam kecelakaan antara sepeda motor dan truk ketika jarak pandang di jalan dilaporkan hanya sekitar dua meter akibat asap. Di Lampung, sedikitnya enam kendaraan terlibat dalam kecelakaan beruntun yang juga diduga dipicu oleh asap karhutla.

Berapa lagi nyawa yang harus hilang supaya ini dianggap serius?

Prabowo, Gibran, dan Kabinet Gemuknya.

Mari kita sumpahi mereka dan seluruh keturunannya. Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah justru dipakai untuk memelihara keserakahan. Hutan dibakar, kehidupan dihancurkan, rakyat dibiarkan menghirup racun, sementara para pemangku kuasa sibuk berpesta di atas penderitaan. Boro-boro menetapkan Bencana Nasional, yang ada mereka buat ini sebagai Rencana Nasional.

Semoga sejarah tidak pernah membiarkan pengkhianatan ini terlupakan.

Mik, Mami ga tau, apa kamu masih punya kesempatan untuk jatuh cinta pada tempat yang sama. Tapi Borneo yang indah, betul pernah ada Mik.

Ditulis di : Humble Baker.

Leave a Reply