July 2020.
It’s been a half year of twenty-twenty.
Quoting from ICRC, this pandemic is causing people to feel anxious, distressed or worried: fear of contracting the virus, of family becoming sickened; stress and anxiety related to isolation and quarantine measures; distress about separation with family members; fear of longer term impacts of the global disruption; among other reasons. In war zones and communities affected by violence, many people are already experiencing huge psychological stress.
Let me highlight one thing :
Stress and anxiety related to isolation and quarantine measures.
Courtesy image : CTV News
Ini beneran relate. Kita yang biasanya bepergian dengan bebas, sekarang membiasakan diri untuk terkurung. Kita yang biasanya aktif bekerja, bertemu individu lintas karakter, kini merubah semua bentuk komunikasi dengan virtual meeting -yang bahkan tanpa muka. Kita yang sebelumnya mengobrol dengan leluasa, kini bercakap tanpa membaca garis wajah.
Atau, sesekali kita memaksakan bertemu, melakukan presentasi, lengkap dengan APD. Saya tersenyum di balik masker. Berbalapan dengan nafas sendiri, demi presentasi yang tetap agresif, untuk sebuah utas penjelasan yang tuntas.
Selebihnya, kita terkepung dalam bilik kamar di 24 jam yang nyata. Mencoba terbiasa, pelan-pelan, sedikit sedikit, sampai mendekati ketidakwarasan sesekali. Ada yang bilang sabar, ada yang bilang harus banyak bersyukur, ada yang bilang terima saja. Iya, semuanya betul. Tapi harus juga kita pahami, tidak semua individu bisa menyikapi situasi ini dengan cara dan solusi yang sama.
Beri diri sendiri ruang buat belajar. Berkompromi, lagi, dan lagi. Beradaptasi untuk hal-hal yang mungkin bagi manusia lain biasa, namun tidak untuk sebagian manusia lainnya.
Pandemi ini, sungguh tidak mudah, dan menguras banyak sekali kewarasan diri.
Pada akhirnya, saat ini saya di sudut coffee shop dengan APD, duduk yang begitu berjarak, ditemani secangkir kopi, croissant, serta device nirkabel untuk melepas sesuatu dari kepala.
7 Juli 2020. Dari Giyanti Coffee.

