Singapore, Through Our Eyes: A Special Mom-and-Daughter Adventure


A Quiet Mom & Daughter Escape. There are trips you plan carefully, and there are trips that quietly stay with you long after you’re home.

Perjalanan singkat saya dan Mik ke Singapore beberapa bulan lalu adalah salah satunya. Kami ke sana untuk menyusul Papiko yang lebih dulu berangkat untuk urusan kerja. No rush, no agenda padat. Just the three of us, meeting in a city that somehow always feels familiar, yet new every time.

Kami menginap di Royal Park Hotel Beach Road, lokasinya dekat Bugis, super walkable, dan toddler-friendly. Dari kamar hotel, kami bisa lihat city view yang ga terlalu ramai seperti layaknya di pusat kota, melainkan jajaran coffee shop dan toko-toko unik di sepanjang jalan.

Slow Mornings & City Strolls

Setiap pagi, Mik bangun dengan matanya yang selalu berbinar, seolah hari itu adalah hari paling penting sedunia. Kita jalan berdua lagi kan, Mi?

Yes it was! Bahkan ritual sarapan kami habiskan dengan jalan kaki dari hotel. Kami jalan santai keliling kota dengan stroller dorong tangan yang saya sewa dari Tokopedia. Kampong Glam dan Bugis jadi tujuan utama. Dua area yang hidup, berwarna, dan penuh detail kecil yang sering luput kalau kita terlalu terburu-buru. Mik senang mengintip mural warna-warni di gang sempit, menunjuk jendela toko, dan tertawa setiap kali menemukan sesuatu yang dilihatnya unik. Gambar-gambar muralnya itu loh, keren semua! 

Pro Tip: Singapore itu sangat walkable. Lightweight stroller = happy kid, calm mom, and more time to actually look around.

Masjid Sultan & Quiet Awe

Salah satu tempat dan tourist spot paling dekat adalah Masjid Sultan. Saya selalu menyempatkan kesini, berkali-kali setiap kali ke Singapore. Kubah emasnya berdiri kontras dengan deretan shophouses warna-warni Kampong Glam, architecture that quietly commands your attention. Pernah punya cerita dan momen aja di masa lalu waktu pertama kali ke luar negeri. Kami dulu menginap di guesthouse ramai-ramai, yang jauh dari nyamannya hotel bintang 5. Hahaha.

Balik lagi ke Masjid Sultan. Disini suasananya tenang. Tidak ramai. Perfect untuk berhenti sejenak.
Mik bengong, menatap bangunan itu dengan rasa ingin tahu. Saya membiarkannya. Sometimes, silence is the best teacher. Di sekitar masjid, jalanan tetap hidup, ada café kecil, toko unik, mural cerah. A gentle balance between calm and movement. Cultural, but not overwhelming. Exactly what we needed.


Coffee Break at % Arabica & Fore Coffee

Dimanapun ada % Arabica, disitu ada saya. Hahaha, maaf ya Pak. Bukannya sengaja beli kopi mahal, tapi memang Kyoto Latte-nya Arabica belum ada tandingan. Kami duduk menikmati kopi yang smooth dan fragrant, sementara Mik ngemil snack kecil yang sudah kami siapkan dari hotel. No fancy order. No rush. Just sitting there, watching people pass by. Btw, Mik juga kenalan sama tante Bule di sebelahnya. Memang selalu menyenangkan kalau bawa anak, ada aja privilege-nya 😉

Hari berikutnya kami mampir ke Bugis Junction dan beberapa mall di sekitarnya. Surprisingly, Mik nggak bosan. Window display yang colorful, lorong luas, dan suasana yang fun membuat semuanya terasa ringan. Dan sudah pasti, ada coffee spot yang kami kunjungi. Tidak lain adalah Fore Coffee, yang harganya naik 200% disini. :)))


I loved not having a strict schedule. Letting the day breathe.

A Peaceful Night at Gardens by the Bay

Malam paling aku ingat? Gardens by the Bay.

Kali ini, kami bertiga.
Langit gelap, Supertree Grove menyala perlahan, dan taman dipenuhi cahaya lembut yang terasa almost magical. I am especially fond of that evening with just the three of us, where I can feel the calmness.

Pool Time and Play

What could be better for a 3-year-old than a short time at the pool, and splashing around in the water during Singapore’s sunny climate was even better.

While we were at the pool looking over the city, we could see parts of Marina Bay further away. It was a great morning splashing and watching her play, and seeing the city’s buildings as a backdrop was a nice way to set the stage for yet another day of adventure.

Perjalanan ini bukan soal destinasi.
It was about slowing down. About connection. About enjoying the in-between moments.

From quiet walks and coffee breaks, to glowing trees at night and laughter by the pool; every part felt intentional, even when it wasn’t planned.

These are the memories I’ll carry with me.
Always 

Little Contrast, BSD.

Leave a comment