Kesan pertama saya nonton film ini adalah : KAMERANYA KOK BAGUS BANGETTTT KAKKK?
—
Okay, lupakan kalimat di atas. Karena setelah ini, saya mau membuat quick review. Mumpung masih hangat, dan yang pasti bukan spoiler.
Adalah Reza Rahadian, dengan suara empuk dan renyah-nya yang membuka narasi di film ini. All I can say : 1 menit pertama yang cukup membuat terpaku. Menit-menit berikutnya, Bang Reza bertutur dengan apik, bagaimana Banda menjadi titik magnet bagi banyak negara adidaya saat itu. Waktu rempah, jauh lebih berharga nilainya dari emas. Sebelum Apollo 11 mendarat pertama kali di bulan, penjelajahan mencari daratan rempah adalah satu-satunya penelitian terbesar manusia. Obsesi terbesar yang pernah ada di kepala.
Film garapan Om Jay ini sepenuhnya bercerita tentang Banda, dan andilnya bagi sejarah peradaban dunia di abad pertengahan. Bangsa-bangsa Eropa berebut ekspedisi pelayaran. Tujuannya cuma satu : menguasai pusat rempah-rempah terbaik. Sampai di suatu ekspedisi, berlabuh-lah mereka di Banda. Satu gugusan pulau, yang bagi mereka adalah surga. Inggris, Belanda, Spanyol, Portugis, darahnya habis di Banda. Layaknya ketemu pulau harta karun, semua upaya dilakukan buat menguasai Banda. Mulai dari karangan cerita mistis, sampai pertempuran berdarah dari hari ke hari – selama bertahun-tahun. Yang buat hati terenyuh, Agustus 2017 ini, menjadi penanda tepat 350 tahun sejak Banda ditukar dengan Manhattan New York. Iya, Belanda rela melepas daerah kekuasaan Manhattan kepada Inggris, demi memiliki Banda.
Jan Pieterszoon Coen. Satu nama yang saya lafalkan sepanjang film. Googling him.
Banda juga menyelipkan cerita, tentang Bung Hatta dan Bung Syahrir. Dua Bapak Bangsa yang pernah beberapa tahun diasingkan disitu; sampai kisah keduanya yang akhirnya dijadikan nama pulau di kawasan kepulauan Banda. Adalah Pulau Hatta, dan Pulau Syahrir. Haru biru. T_T.
“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” – Bung Hatta.
Sepanjang hidupnya, koleksi Buku Pak Hatta lebih dari 80.000 buku. Beliau dan Pak Syahrir, adalah sebaik-baik contoh orang terdidik yang turun ke dunia politik.
Juga ada kisah dari Pak Pongky, salah satu petani pala di Banda. Di akhir bagian ini, kami speechless.

Satu hal yang membuat bahagia; akhirnya film seperti Banda ini ada. Mangaduk-aduk lagi ingatan SD saya, yang senaaang sekali dengan pelajaran sejarah waktu itu. Terngiang-ngiang untaian cerita almarhum guru sejarah saya tentang Pala, Belanda, Perbudakan, sampai detik-detik menuju Kemerdekaan.
Maka, di tengah arus film fiksi bergendre horor, drama, komedi, yang salip menyalip di posisi 10 besar Film Terlaris Sepanjang Masa; Banda menjadi warna baru bagi sinema kita. Saya sadar, film-film sejenis ini jarang diproduksi, karena memang sepi peminat. Tapi semoga setelah ini, ada banyak lagi Jay-Jay lain, sinemas Republik kita yang bersedia menggarap film sejarah Indonesia.
Banda, such a great start.
Kembali ke paragraf teratas tulisan ini, saya ingin mengapresiasi untuk sajian sinematografi yang sangat indah. Lekat sekali saya ngelihat satu per satu detailnya; tanpa cela –setidaknya untuk orang awam seperti saya.
Banda, sungguh indah.
Jadi, kapan kamu mau ke Banda? Sama saya?
NP : Banda Neira – Sampai Jadi Debu.