Berhenti di Ayam Ungkep

Ramadan, malam ke-13..

“Terima kasih ayam ungkepnya, Bu. Tapi kok, nggak ada suratnya? Hehe.”

Benar. Kali ini saya berhenti.
Berhenti menulis personal notes. Atau lebih tepatnya, menyimpan lagi kertas yang sudah dibeli, dan mengurungkan memberi pesan.

Ekspektasi adalah hal yang ingin saya kontrol lagi.

Menerima pesan masih menjadi salah satu hal favorit saya. Setidaknya sampai saat ini.
Menyimpannya. Membacanya ulang di waktu yang random.
Menghangatkan diri sendiri dari kata-kata yang pernah sampai.

Tapi sebaliknya.

Pesan-pesan yang pernah saya tulis dengan sungguh; barangkali tidak berarti apa-apa. Hanya lewat. Singgah. Lalu hilang.

Di banyak kesempatan, saya menawarkan diri menjadi pendengar yang sangat serius.
Handphone tidak saya lirik.
Laptop saya tutup.
Fokus saya utuh ke kamu.

Mencerna. Memasukkan ke kepala, satu demi satu.
Menghargai setiap jeda dan nada. Lalu merangkum lagi, di perjalanan saya pulang.

Tapi di lain kesempatan, saya bertanya lagi: saya deserve ga ya buat dapat perlakuan yang sama?

Lalu saya tertawa kecil.
Ah, itu salah saya sendiri; berekspektasi.

Jadi mungkin, tidak bercerita lebih baik.

Mungkin berhenti mengirim pesan juga bukan berarti berhenti peduli.
Tapi mari meletakkan hati di tempat yang tidak terlalu berisik oleh ekspektasi.


Setidaknya untuk sementara.

Leave a comment