Pernah ngga, tiba-tiba hidup kita belokin tanpa permisi? Nah ini cerita saya soal salah satu belokan itu. Berhubung lagi punya target 1 month 1 post, izin saya flashback dulu wkwk.
Jadi, tepat di pergantian tahun menuju 2025 lalu, belum terlintas sama sekali di kepala, dan ga masuk juga daftar resolusi 2025; untuk tiba-tiba melunasi KPR. Saat itu kami masih masuk tahun ke-4 KPR, sisa cicilan masih sekitar 60%, atau kurang lebih enam tahun lagi. Tapi ya namanya juga surprise kehidupan, ya. Banyak hal spontanitas yang perlu keberanian buat diambil. Ini bingung juga harus mulai cerita dari mana, tapi rasanya memang harus sedikit mundur ke awal perjalanan saya dan suami sejak resmi jadi suami istri.
Tahun Awal Rumah Tangga
Kami mengawali pernikahan benar-benar dari nol. Biaya pernikahan, perjalanan ke Bali, lamaran, dan segala proses menuju sah kami atur sendiri, dari tabungan kami sendiri. Walaupun, ya, rencana besar itu sempat bubar jalan juga karena pandemi. Wkwk punten ya teman-teman yang sudah membeli tiket saat itu; yang akhirnya resepsi gagal kami gelar, karena mendadak si virus bikin semua kegiatan berkerumun harus berhenti total.
Setelah menikah, hidup kami tetap dimulai dari titik yang sama: nol. Kami memilih tinggal mengontrak di rumah petakan di daerah Kampung Melayu, dekat kantor saya di Tebet waktu itu. Keputusan yang diambil dengan sadar sepenuhnya, karena kami ingin belajar hidup mandiri. Semua fasilitas orang tua kami tinggalkan. Kendaraan pertama yang kami punya adalah motor Lexy, yang kami beli dari tangan kedua. Tidak lama setelah itu, saya hamil, dan di situlah hidup dewasa benar-benar terasa. Hahaha. Bolak-balik kontrol kehamilan, semuanya pakai biaya pribadi, belum dicover asuransi kantor. Di tengah kondisi itu, kami mulai galau berat: apa sudah saatnya beli rumah, apa perlu KPR, apa jangan dulu. Galau ini serius, karena dari awal kami tipe yang bahkan kartu kredit saja tidak punya. Anti cicilan. Boro-boro utang.
Long story short, setelah pertimbangan panjang, diskusi yang muter-muter, dan doa yang nggak putus, akhirnya kami mencari rumah yang affordable sebagai rumah pertama. Setiap weekend agenda kami adalah muter mencari lokasi yang sebelumnya sudah kami tandai di OLX, dan platform sejenisnya. Kami mengurus KPR syariah melalui BSM, dan saat itu benar-benar cuma bisa bilang, “Bismillah.”. Tepat delapan bulan setelah menikah, kami akad beli rumah. Rumah second, yang tentu saja perlu renovasi awal. Budget keluar cukup besar di sini, belum lagi biaya notaris dan biaya-biaya lain yang menyusul. Kami ngotot memilih tenor KPR paling pendek dengan DP yang dibesarkan, supaya cicilan tidak terlalu memberatkan. Setelah renov kecil-kecilan, rumah akhirnya siap kami tempati. Belum sempat benar-benar bernapas lega, kami memutuskan lagi untuk beli mobil second. Cash, tentu saja, karena kami tetap tidak mau menambah cicilan. Sekarang kalau dipikir-pikir, dar-der-dor juga ya dulu. Ambil KPR dengan DP besar, renovasi rumah, beli mobil, semua itu di saat kondisi saya hamil besar, bolak-balik kontrol, dan persiapan persalinan yang seluruhnya menggunakan biaya pribadi. Wkwkwk. Tapi ya balik lagi, yang penting bismillah, dan entah kenapa Allah mudahkan semuanya.
Kelahiran Mik
Saat itu April 2021. Anggota keluarga kami resmi bertambah. Mik lahir. Saat itu kami sudah memiliki ART, dan di rumah itulah keluarga kecil kami mulai tumbuh. Rumah itu menjadi saksi banyak hal: tumbuh kembang Mik, saya yang menjadi orang tua baru dan sempat stres berat karena benar-benar newbie, sampai pergantian mba yang jagain Mik. Kalau kata teman saya, ya memang tiap orang punya fasenya masing-masing. Tapi ini konteksnya Mba-nya Mik ya. Iziin.

Tiba-Tiba Nekat
Lalu tanpa terasa, tahun lalu kami sampai di 2025. Dengan berbekal bismillah yang sama, entah bagaimana ceritanya kami berdua duduk, berhitung, diam sebentar, lalu berembug lagi, dan dengan cukup gesit mengambil keputusan besar: kami harus menghentikan KPR dan melunasi rumah ini secepat mungkin, at all cost. Kami hitung dana tabungan, kami cairkan simpanan aset emas yang rutin kami tabung setiap bulan, dengan satu niat yang sama: berhenti nyicil. Kami berdoa agar Allah ridho dan memudahkan jalan ini.
Prosesnya ternyata luar biasa ribet. Dari sisi perbankan, akses dipersulit, kami diminta mempertimbangkan untuk melanjutkan saja KPR, kami dikenakan potongan ini dan itu. Padahal kami datang dengan niat baik untuk melunasi. Kami bolak-balik ke bank, push lewat WhatsApp, telepon, email resmi, dan segala jalur yang bisa kami tempuh. Jujur, sempat heran juga, ini kita mau bayar lunas, kok malah dipersulit. Tapi keputusan kami lumayan gigih dan engga goyah. Setelah sekitar tiga sampai empat bulan jungkir balik mengurus, akhirnya pelunasan itu dikabulkan. Masya Allah Tabarakallah, rasanya hanya dengan pertolongan Allah rumah ini bisa lunas di tahun keempat.
Tiba-Tiba Renov
Dan ternyata, cerita tidak berhenti di situ. Karena setelah KPR lunas, kami justru menghubungi kontraktor dan arsitek. Wkwkwk. Ini benar-benar versi habis-habisan. Kali ini renovasi total. Rumah dibongkar, dan kami mulai merencanakan rumah impian versi kami: tidak luas, tapi hangat; tidak mewah, tapi fungsional. Dua lantai penuh. Rumah untuk tumbuh. Ceritanya akan betulan panjang, tapi nanti kita bikin seriesnya kali ya? Wkwkwk, nanti kalau rumahnya sudah jadi. Sementara saya lampirkan dulu ragam foto Mik supervisi rumahnya dari awal.












Sekarang sudah masuk bulan kelima, menuju bulan keenam renovasi. Rumah Mik masih dikerjakan dan belum selesai, bahkan molor dari perkiraan awal. Awalnya kami berharap sebelum puasa sudah bisa menempatinya, tapi kelihatannya harus mundur dari estimasi. Jadi doakan ya, semoga prosesnya lancar, menjadi rumah yang hangat untuk kami. Untuk kami tumbuh, dan merekam banyak cerita yang akan kami kenang nantinya. Dan doain juga semoga kami terus dilapangkan rezekinya, supaya perlahan bisa mengisi rumah ini dengan interior terbaik dan fasilitas terbaik, setahap demi setahap, seperti hidup kami sejak awal.
Sedikit intermezo, mau tahu nggak apa yang lebih gong? Di tengah semua hiruk pikuk itu; load kerjaan yang bikin meledak, lunasin rumah, bongkar total, renov habis-habisan; di akhir tahun lalu, tepatnya November–Desember, kami sempat-sempatnya masih berangkat ke Jepang bertiga. Jujur, sebelum berangkat saya bolak-balik mikir buat batalin perjalanan. Yang pertama tentu soal budget. Ya ampun, ini rumah baru saja dilunasi, lagi direnov dari nol, uang rasanya keluar terus, dan kami masih mau jalan ke Jepang bertiga? Haduh. Tapi setelah mikir panjang, kami bulatkan niat. Perjalanan ini kami anggap sebagai core memory untuk Mik. Kami bertiga juga butuh jeda, butuh napas, butuh berhenti sebentar dari mode bertahan. Dan akhirnya, dengan bismillah yang sama, kami tetap berangkat. Hahaha.
Kalau dipikir-pikir, mungkin begitulah hidup kami: selalu di antara perhitungan dan keberanian, di antara logika dan bismillah. Dan sejauh ini, kami masih belajar percaya bahwa selama niatnya lurus, Allah selalu punya caranya sendiri untuk mencukupkan.
Dah segitu dulu. Nanti kita sambung lagi 🙂
Ditulis di rumah. Diupload di Saturdays.