Dulu, setiap kali bepergian, saya selalu menghitung. Sudah sampai provinsi ke berapa. Angka-angka itu bukan sekadar catatan perjalanan. Ia adalah cara saya mencintai Republik.
Saya punya target pribadi yang kalau dipikir sekarang cukup naif: usia saya harus sama dengan jumlah provinsi yang pernah saya kunjungi. Target usia 34, berarti tempat yang dikunjungi sudah genap provinsi ke-34. Haha. Ambisius, ya. Apalagi saya baru memulainya tepat di usia 22 tahun, saat pertama kali bisa punya pendapatan sendiri.
Di tahun-tahun awal bekerja, hidup saya penuh hitung-hitungan. Mencari kos paling hemat. Mengukur jarak kos ke kantor agar bisa ditempuh jalan kaki. Sebagian besar gaji saya tabung, sisanya saya sisihkan untuk satu hal: membeli satu tiket ke mana saja. Kalau bisa, saya usahakan keluar kota. Ke provinsi baru. Sebisanya. Tentu, pulang kampung bolak-balik ke Bali juga termasuk di dalamnya.
Buat saya, setiap perjalanan adalah pengingat bahwa negeri ini luas, beragam, dan penuh cerita. Menghitung provinsi menjadi cara saya merayakan semua itu. Sampai suatu hari, saya sadar: Saya sudah berada di provinsi ke-20. Usia saya saat itu 27 tahun. Januari 2019. Riau.
Setelah itu, saya tidak pernah menghitung lagi.
Ini adalah potret terakhir yang saya abadikan di Instagram. Gila, sudah lebih dari enam tahun lalu.

Saya berhenti.
Hidup saya mulai dipenuhi peran lain. Tanggung jawab bertambah, ritme berubah. Ruang untuk pergi tanpa banyak pertimbangan semakin sempit. Perjalanan tidak lagi sesederhana membeli tiket dan berangkat.
Namun, alasan sebenarnya lebih dari sekadar waktu dan tanggung jawab.
Saya mulai lelah menyaksikan bagaimana negeri ini dipimpin. Melihat kekuasaan dijalankan tanpa rasa cukup. Kebijakan yang seharusnya melindungi, justru jadi ajang memperkaya diri. Yang duduk di kursi jabatan kini, bukan lagi karena kompetensi, tapi soal kedekatan pribadi.
Hari-hari ini, saya berdiri di puncak kemarahan itu. Cara orang nomor satu di negeri ini memandang bencana terasa begitu jauh dari empati. Nyawa rakyatnya berakhir di angka. Tragedi yang sebegitu porak poranda, hanya dianggap bising di sosial media. Keserakahan dipertontonkan tanpa rasa malu.
Di sekelilingnya, satu kabinet Republik yang dulu saya cintai lebih sibuk merapikan narasi daripada benar-benar turun ke pelosok; tempat listrik padam berminggu-minggu. Sungguh negara terasa absen. Cara pemimpin negeri ini memandang bencana betulan nir-empati, tanpa rasa cukup. Keserakahan dipamerkan, sementara penderitaan dipinggirkan.
Teman-teman, mereka itu buah yang rakyat kita pilih di 2024 lalu. Aduh saya benci sekali harus mengingat Pemilu, dan buah yang dihasilkannya. Suara bisa dibeli. Tapi lebih sedih lagi menyaksikan mereka yang punya kecerdasan di atas rata-rata, punya akses sangat luas, justru ikut merayakan politisi yang menjual joget, slogan kosong, dan algoritma buzzer TikTok. Demokrasi direduksi menjadi tontonan.
Kepada mereka yang akan kembali menentukan arah bangsa, terutama generasi yang pernah menikmati Indonesia dengan wajah lain, esok lusa pilihlah dengan lebih bijak. Kesalahan ini terlalu mahal untuk diulang. 🥺
Saya tidak tahu apakah saya sepenuhnya berhenti mencintai Indonesia.
Yang saya tahu, saya kehilangan semangat untuk merayakannya seperti dulu. Tapi walaupun begitu, izinkan saya mengingat sejenak, momen beberapa tahun lalu melalui capture Instagram yang pernah saya abadikan.


















Kadang saya bertanya pada diri sendiri: Ke mana perginya versi saya yang begitu bersemangat menjelajah negeri ini? Apakah rasa itu benar-benar hilang, atau hanya berubah bentuk?
Saya belum punya jawabannya.
Yang jelas, setelah saya berhenti menghitung provinsi, mengunjungi Jepang empat kali terasa jauh lebih menyenangkan. Pun menjelajah Rusia di tahun yang sama. Filipina. Atau sekadar bolak-balik ke Bangkok, Singapura, dan Malaysia.
Mungkin suatu hari nanti, saya akan kembali menghitung. Bukan untuk mengejar angka, melainkan untuk menemukan kembali bagian diri saya yang sempat tertinggal di provinsi ke-20.
28 Dec 2025, Serpong Terrace,