2025 mengajarkan dua hal yang berjalan berdampingan. Bahwa ada waktunya kita bertahan lebih lama dari seharusnya; dan menerima bahwa tidak semua yang kita jaga harus tetap berjalan bersama. Sederhananya : melepas. Orangnya masih sama. Baiknya masih ada. Cuma, hubungan itu tidak lagi berada di ruang yang sama.
Melepas tidak hanya tentang orang. Ia juga tentang posisi, tanggung jawab, kebiasaan, dan peran-peran yang pernah kita jaga seolah itu rumah.
Dan itu, ternyata, lebih sulit daripada konflik. Alias, tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak ada ledakan atau drama yang bisa jadi alasan. Hanya jarak yang tumbuh pelan-pelan,
Tapi ya, yang paling berat dari fase ini ternyata ingatan. Apalagi banyak ruang sosial media yang kasih notifikasi “momen hari ini di tahun lalu”, akh. Atau, background iPhone yang tiba-tiba memutar kolase foto dan video random yang memunculkan lagi rasa dan kenangan bersama orang-orang yang sama, di masa lampau.
Kemudian alam bawah sadar kita berhitung. Tentang seberapa banyak hal yang sudah dilalui bersama. Tentang versi diri kita yang tumbuh berdampingan.
Di zona waktu yang berbeda. Ada pelajaran yang datang tanpa nama. Tentang satu teman, yang pernah berjalan cukup dekat, cukup lama, dan cukup tulus. Dengan satu perjalanan kereta, dia datang ke BSD. Matanya sayu. Tidak sama seperti kegiatan sosial medianya. Lalu mengalirlah cerita, yang sampai hari ini aku selalu ingat di kepala. Permintaannya sederhana, izin untuk menarik rem dan menepi.
Sungguh, berapa kalipun ada di posisi ini, ga pernah sekalipun ini menjadi sedikit lebih mudah. Untuk sekali itu, yang bisa saya lakukan bukan lagi menahan, melainkan memastikan dia hanya boleh pergi dengan martabatnya harus tetap utuh.
“There is dignity in leaving when you’ve given enough.”
Saya lagi belajar memahami bahwa melepas, tidak selalu berarti gagal menjaga. Katanya, ada kalanya itu justru bentuk tanggung jawab terakhir. Akh. Tapi kalaupun sudah ada di titik ini, yang mau saya pastikan, kamu mendapat hak kamu, dengan sempurna. Dan berjalan dengan kepala yang tegak.
Di tahun yang sama, saya juga berhadapan, satu per satu, dengan banyak kepala yang berjalan bersama. Percakapan yang tidak ringan. Fase yang tidak mudah. Ditambah bulan-bulan yang selalu menuntut terobosan :))
Satu hal yang selalu bisa saya tawarkan, adalah menjadi pendengar. Mengingat, dan mencatat setiap poin yang diungkapkan. Ga semuanya bisa saya jawab. Ga semuanya bisa selesai di saya. Tapi, saya mau memastikan, saya bareng kamu melalui ini. Meyakinkan bahwa jalan keluar selalu ada, walaupun saat itu belum tau jalannya di sebelah mana.
Seorang teman lainnya pernah berkelakar. Bahwa saya adalah manusia tanpa emosi. Hehe. Yaudah, berarti branding-nya dapat.
Dia, atau mereka, ga perlu tahu, bahwa emosi itu ada. Hanya saja disimpan rapat-rapat, agar tidak mengganggu perjalanan orang lain.
Dari banyak hal, saya memilih menjadi yang terakhir goyah.
Jadi saya akan selalu masih punya ruang, buat kamu cerita dan bersandar.
Dan pada akhirnya, semua pelajaran ini bertemu di satu titik yang sama: bahwa tidak semua hubungan harus diperjuangkan sampai habis. Ada yang selesai bukan karena rusak, tetapi karena perannya sudah tuntas.
Mungkin, bentuk sayang yang paling sunyi saat ini, adalah : mengizinkan seseorang melanjutkan hidupnya, tanpa kita di dalamnya.
Aduh.
Tapi, kayanya saya masih belum siap untuk menghadapi itu lagi. Besok atau lusa, kalau saya ada di posisi berseberangan dengan kamu, yang membuat kita harus berjarak, tolong jangan buru-buru ya. Tolong jangan semudah itu.
Mari beri waktu pada ingatan. Beri ruang pada semua yang pernah kita jaga dengan sungguh-sungguh. Karena ada hubungan yang layak ditutup dengan pelan, tapi kalau bisa sih jangan ya. Mungkin, bertahan sedikit lebih lama, bahkan di ujung, adalah cara saya menghormati semua yang pernah ada.
Ditulis waktu lagi hujan.
Serpong Terrace, 21 Dec 2025.